Nabire — MPN. Festival Media se-Tanah Papua yang berlangsung di Nabire, Papua Tengah, pada 13–15 Januari 2026, menjadi ruang refleksi bagi jurnalis dan pelajar untuk menakar ulang peran media sosial di tengah meningkatnya arus disinformasi di ruang digital.
Kepala Biro Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara Papua, Hendrina Dian Kandipi, menegaskan media sosial kerap menjadi titik awal eskalasi konflik di Papua ketika informasi disebarkan tanpa verifikasi dan konteks yang memadai.
Menurut Hendrina, jurnalis memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan media sosial digunakan sebagai sarana edukasi publik dan penyebaran narasi damai, bukan alat provokasi yang memperkeruh situasi sosial.
“Media sosial jangan dijadikan pemantik konflik. Peran jurnalis justru menghadirkan informasi berimbang dan menunjukkan bahwa Papua tidak hanya tentang konflik, tetapi juga tentang potensi dan harapan,” ujar Hendrina dalam festival yang digagas Asosiasi Wartawan Papua (AWP) itu.
Ia juga menyoroti kecanduan media sosial yang kini meluas, tidak hanya di kalangan pelajar, tetapi juga pekerja profesional, termasuk jurnalis. Hendrina menilai ketergantungan ini berisiko menurunkan kualitas kerja jurnalistik jika tidak dikelola secara sadar.
Hendrina mengapresiasi antusiasme pelajar yang mengikuti festival dan berharap kegiatan tersebut menjadi agenda berkelanjutan di berbagai wilayah Papua untuk memperkuat literasi media serta meningkatkan kualitas jurnalisme di era digital.














