Nabire — MPN. Mewakili Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Nabire, drh. I Dewa Ayu, Kepala Bidang Prasarana, Sarana, dan Penyuluhan Francisco Mariano Maker menyampaikan kepada awak media bahwa bantuan obat-obatan ternak dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah merupakan bentuk dukungan strategis dalam menjaga pelayanan publik sektor peternakan di tengah merebaknya wabah African Swine Fever (ASF) dan keterbatasan anggaran daerah.

Bantuan obat-obatan ternak dari Dinas Peternakan dan Perkebunan Provinsi Papua Tengah Tahun Anggaran 2025 yang diserahkan pada 2026 tersebut dinilai krusial untuk memperkuat penanganan kesehatan hewan di Kabupaten Nabire, yang memiliki populasi ternak cukup besar dan menghadapi risiko penyakit menular yang berdampak langsung pada ekonomi masyarakat.
“Kondisi fiskal kabupaten memiliki keterbatasan, sementara kebutuhan penanganan penyakit ternak, khususnya ASF, terus meningkat. Bantuan ini menjadi penguatan penting agar pelayanan kesehatan hewan tetap berjalan optimal,” kata Francisco saat ditemui di ruang kerjanya.
Menurut dia, obat-obatan yang diterima memiliki cakupan penggunaan luas karena mengandung antibiotik, vitamin, serta obat dengan karakter long action (LA) yang efektif digunakan pada berbagai jenis ternak, mulai dari sapi, babi, ternak ruminansia, monogastrik, hingga unggas. Karakter obat tersebut memungkinkan pengobatan dilakukan lebih efisien karena cukup satu kali pemberian dengan daya kerja yang bertahan lama.
Dalam upaya pengendalian penyakit, Dinas Peternakan Nabire menerapkan dua pola penanganan, yakni respons terhadap laporan masyarakat serta pengobatan massal di wilayah dengan basis populasi ternak tinggi, setelah dilakukan survei untuk mengidentifikasi penyakit dominan. Sejumlah wilayah, seperti Wanggar dan Makimi, menjadi prioritas pengobatan massal ternak sapi berdasarkan hasil pemantauan lapangan.
Francisco menegaskan bahwa ketersediaan tenaga paramedis, dokter hewan, peralatan, dan obat-obatan harus diimbangi dengan pelaporan cepat dari masyarakat, terutama dalam menghadapi penyakit menular seperti ASF.
“Tanpa laporan yang cepat, penanganan dan pencegahan penularan tidak akan maksimal. Karena itu, peran aktif masyarakat sangat menentukan keberhasilan pengendalian penyakit ternak,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan layanan kesehatan hewan ini ditujukan untuk menekan angka kesakitan dan kematian ternak serendah mungkin, menjaga stabilitas populasi ternak, serta melindungi mata pencaharian masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Nabire berharap dukungan dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah dapat terus berlanjut dan ditingkatkan sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas pelayanan publik di sektor peternakan.














