Nabire, MPN — Di usia yang belum genap setahun, Papua Tengah mulai menata fondasi ekonominya. Bukan dengan seremoni, tetapi dengan data.
Melalui Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Papua Tengah, sebuah tim kecil bernama Tim 11 dibentuk. Tugasnya strategis: memetakan potensi riil delapan kabupaten sebagai pijakan investasi.

Ketua Tim 11, Maximus Tipigau, menyebut mandat itu bukan pekerjaan ringan. Ia bersama tim menerima Surat Keputusan langsung dari Ketua KADIN Papua Tengah untuk menyusun kajian awal berbasis data lapangan.
“Kalau kita bicara digitalisasi, bicara investasi, semuanya harus berbasis data. Investor tidak datang hanya karena janji. Mereka datang karena angka, potensi terukur, dan kepastian,” kata Maximus, kepada awak media saat di temuin di Cafe Cartenz Nabire, Kamis malam (26/2/2026).
Hasilnya, sekitar 80 persen kerja Tim 11 telah dipresentasikan di hadapan KADIN Pusat dan mendapat apresiasi. Bagi Papua Tengah yang baru berusia lima menuju enam bulan, capaian itu dinilai sebagai langkah awal yang progresif.
Data yang dikumpulkan tidak berhenti di meja provinsi. Kajian tersebut akan diturunkan hingga tingkat kabupaten dan distrik, lalu dikolaborasikan dengan Bappeda dan dinas terkait. Tujuannya menyelaraskan potensi daerah dengan visi gubernur dan wakil gubernur.
Sejumlah sektor mulai dipetakan. Komoditas kopi disiapkan sebagai penggerak ekonomi di delapan kabupaten. Ekowisata juga masuk prioritas, termasuk pengembangan Danau Paniai yang berada di ketinggian sekitar 2.100 meter di atas permukaan laut dan kawasan pegunungan yang terhubung dengan Puncak Jaya (Cartensz Pyramid). Di wilayah pesisir, potensi wisata hiu paus pun dilirik sebagai ikon ekonomi biru.
Namun bagi Maximus, sumber daya alam hanyalah pintu masuk.
“Kita tidak boleh hanya bangga dengan alam. Yang utama adalah manusia Papua harus siap. Kita mau lahirkan pengusaha, bukan hanya pencari kerja,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua KADIN Papua Tengah, Alexander Gobay, menegaskan pembenahan organisasi berjalan paralel dengan agenda ekonomi. Dari delapan kabupaten, lima telah definitif: Paniai, Dogiyai, Deiyai, Intan Jaya, dan Puncak. Tiga lainnya, Mimika, Nabire, dan Puncak Jaya, sedang diproses melalui SK karateker untuk percepatan musyawarah dan pelantikan.
“Kita tidak mau hanya bicara besar. Delapan kabupaten harus definitif. KADIN harus hadir nyata, mempermudah administrasi pelaku usaha dan memastikan regulasi berpihak pada pengusaha lokal Papua,” kata Gobay.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah daerah dan aparat keamanan guna menciptakan kepastian hukum bagi investor.
Targetnya terukur. Dalam satu periode lima tahun, KADIN Papua Tengah ingin melahirkan minimal satu hingga dua pengusaha asli Papua yang mampu menjadi contoh sukses di daerahnya sendiri.
Papua Tengah, yang selama ini dikenal karena kekayaan alamnya, kini diuji pada satu hal: mampukah ia mengubah potensi menjadi kekuatan ekonomi berbasis data dan keberpihakan pada anak daerah? KADIN Papua Tengah memilih menjawabnya dengan kerja.














