Nabire, MPN — Asap tipis mengepul dari dapur SPPG Kalisusu 001 setiap pagi. Di balik aktivitas itu, ada tanggung jawab besar: menyiapkan 1.890 porsi makanan bergizi setiap hari bagi siswa dan kelompok rentan.
Di bawah kepemimpinan Yameth Pahabol, S.IP, pelayanan Program Makan Bergizi (MBG) di SPPG Kalisusu 001 kini berjalan lebih tertata, inklusif, dan berorientasi jangka panjang.

“Sampai hari ini, puji Tuhan, pelayanan berjalan baik. Tidak ada kendala berarti di lapangan,” ujar Yameth kepada wartawan.
SPPG Kalisusu 001 melayani tujuh satuan pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga TK, baik negeri maupun swasta. Selain itu, terdapat 134 penerima manfaat kategori 3B—balita, ibu menyusui (busui), dan ibu hamil (bumil).
Totalnya, 1.890 porsi makanan diproduksi dan didistribusikan setiap hari.
Distribusi kini lebih efisien setelah penggunaan mobil box, menggantikan kendaraan biasa yang sebelumnya digunakan. Langkah ini mempercepat penyaluran makanan sekaligus menjaga kualitas hidangan tetap layak konsumsi saat tiba di sekolah.
Tak hanya fokus pada penerima manfaat, Yameth juga membenahi sistem internal. Sebanyak 50 tenaga kerja termasuk ahli gizi dan akuntan, kini bekerja dalam sistem yang lebih terstruktur.
Salah satu terobosannya adalah mendaftarkan seluruh pekerja ke BPJS Ketenagakerjaan.
“Kita bekerja di dapur, ada risiko. Kami ingin semua terlindungi. Kalau terjadi kecelakaan kerja, ada jaminan,” katanya.
Langkah ini dinilai penting untuk memastikan stabilitas pelayanan jangka panjang.
Di bulan Ramadan, dapur SPPG tak berhenti beroperasi. Namun mekanisme disesuaikan.
Bagi siswa dan guru yang berpuasa, disediakan menu kering untuk dibawa pulang dan disantap saat berbuka. Sementara yang tidak berpuasa tetap menerima menu basah siap saji di sekolah.
“Kami pastikan semua tetap menerima haknya. Hanya mekanismenya yang berbeda,” ujar Yameth.
Pendekatan ini dinilai sebagai wujud toleransi di ruang publik pendidikan.
Di balik kelancaran pelayanan, Yameth menyoroti persoalan yang lebih mendasar: pasokan bahan pangan lokal.
Dengan kebutuhan hampir dua ribu porsi per hari, stok dari masyarakat sekitar belum mampu memenuhi permintaan. Akibatnya, sebagian bahan baku masih harus didatangkan dari luar daerah.
Padahal, menurutnya, komoditas lokal seperti jeruk, salak, dan keladi berpotensi dikembangkan.
“Kalau masyarakat dibina dan didorong menanam, uang negara ini bisa berputar di sini. Mama-mama Papua bisa ikut merasakan manfaatnya,” tegasnya.
Ia berharap ada sosialisasi dan pelatihan terpadu dari pemerintah dan pemangku kepentingan agar ketahanan pangan lokal bisa menopang program MBG secara berkelanjutan.
Bagi Yameth, MBG bukan sekadar soal makan siang gratis. Ini adalah investasi sumber daya manusia.
“Dengan gizi yang baik, anak-anak kita punya kualitas untuk bersaing, di mana pun mereka berada,” katanya.
Di dapur sederhana itu, masa depan sedang dimasak setiap hari, bukan hanya nasi dan lauk, tetapi harapan akan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan siap menghadapi dunia.














