Nabire Dikepung Hampir 100 Ton Sampah per Hari, DLH: Pelanggar Siap-Siap Dipidanakan

banner 120x600

Nabire, MPN – Ancaman darurat sampah kian nyata. Pemerintah pusat dalam Rakornas di Jakarta bersama Kemendagri, Kementerian LH, Kementerian Desa, PDT2 serta Kementerian PUPR menegaskan Indonesia kembali dalam status darurat sampah.

Presiden Prabowo Subianto bahkan meluncurkan program Indonesia Asri untuk mengembalikan kebersihan lingkungan nasional. Di daerah, peringatan itu langsung terasa.

Kadis DLH Nabire, Arfan N Palumpun mengungkapkan, volume sampah kini melonjak tajam sejak Nabire ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Papua Tengah. Jika sebelumnya sekitar 70 ton per hari, kini mendekati 80 hingga hampir 100 ton per hari.

“Kenaikan ini signifikan. Satu truk bisa dua sampai tiga kali bolak-balik ke TPA dalam sehari. Kalau satu armada rusak, langsung terjadi penumpukan,” ujar Kadis DLH, Arfan N Palumpun kepada awak media diruang kerjanya. Rabu (4/3/2026).

Saat ini DLH hanya memiliki 11 truk yang melayani sembilan kelurahan. Keterbatasan armada membuat pengangkutan harus berpacu dengan waktu.

Di tengah lonjakan itu, DLH memperingatkan warga yang masih membuang sampah sembarangan. Penegakan hukum akan diperketat. Aturan pidana bagi pelaku pencemaran lingkungan dinilai sudah sangat jelas, termasuk ancaman kurungan dan denda.

“Kami sudah berkomitmen dengan aparat penegak hukum. Akan ada tindakan tegas bagi yang melanggar,” tegasnya.

DLH juga menghadapi tantangan besar menuju 2029. Pemerintah pusat menargetkan pengelolaan sampah 100 persen. Bahkan pada 2030, TPA berpotensi ditutup paksa oleh Kementerian Lingkungan Hidup jika daerah tidak siap bertransformasi.

Namun di lapangan, persoalan tidak hanya soal volume. Penempatan kontainer sampah kerap ditolak warga. Sejumlah fasilitas bahkan dirusak dan dibakar, padahal biaya pembuatan satu kontainer mencapai puluhan juta rupiah.

Kadis DLH menegaskan tugas mereka sebatas mengangkut sampah dari TPS yang telah disediakan, bukan membersihkan seluruh area pasar atau lingkungan permukiman.

“Kami butuh dukungan masyarakat. Tanpa kesadaran bersama, target 2029 mustahil tercapai,” ujar Kadis DLH.

Arfan mendorong masyarakat mulai memilah sampah dari sumbernya dan memanfaatkan pengelolaan berbasis TPS 3R agar sampah memiliki nilai ekonomi.

“Jangan sampai kita baru sadar ketika bencana datang. Sampah hari ini menentukan masa depan kota ini,” katanya.

Penulis: FNEditor: Jiro Nussy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *