Nabire, MPN – Di tengah agenda peninjauan pembangunan sarana SPPG Polri di Akudiomi, Yaru, Nabire Barat, Papua Tengah, sebuah momen sederhana justru menyita perhatian warga. Korwil BGN Nabire, Marsel Asyerem, memborong habis dagangan seorang Mama Papua yang berjualan hasil bumi di sepanjang jalan Trans.

Bagi sebagian orang, tindakan itu mungkin terlihat biasa. Namun, bagi Mama Papua tersebut, seluruh dagangan yang ludes terjual menjadi penanda bahwa kerja keras hari itu tidak berakhir sia-sia.
“Hari ini saya belajar lagi arti kebahagiaan yang sederhana. Seorang Mama Papua tersenyum lepas ketika seluruh jualannya habis dibeli. Senyum itu bukan hanya tanda dagangan laku, tetapi tanda bahwa jerih payahnya hari ini tidak pulang sia-sia,” ujar Marsel, Rabu (11/2/2026).
Marsel mengatakan, di balik setiap hasil bumi yang dibawa ke pasar, tersimpan harapan untuk keluarga. Ia mengaku melihat lebih dari sekadar aktivitas ekonomi dalam peristiwa tersebut.
“Di setiap hasil bumi yang ia bawa, ada doa untuk keluarga, ada harapan untuk anak-anaknya. Saya merasa bukan sedang membeli barang, tetapi sedang ikut menjaga nyala hidup seseorang,” katanya.
Menurut dia, pembangunan sarana SPPG Polri di wilayah Akudiomi tidak hanya dimaknai sebagai pembangunan fisik. Kehadiran negara dan institusi, lanjutnya, juga perlu diwujudkan melalui sentuhan langsung kepada masyarakat kecil.
Aksi spontan itu pun menuai respons positif dari warga sekitar. Senyum Mama Papua yang merekah menjadi simbol sederhana tentang pentingnya empati dalam kehidupan sosial.
“Dari senyum Mama itu, saya tahu—kebaikan kecil bisa menjadi berkat yang sangat besar,” ucap Marsel.
Di tengah tantangan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa solidaritas dapat dimulai dari langkah kecil. Sebab, bagi banyak keluarga, hasil jualan hari ini adalah penentu apakah api tungku dapur tetap menyala esok hari.














