Nabire – MPN. Wakil Ketua Aliansi Media Siber Indonesia (AMSI) Citra Dyah Prastuti menilai banyak media siber menghadapi ancaman keberlanjutan karena gagal memahami audiensnya sendiri. Tanpa konten yang relevan, media akan kehilangan fungsi sosial sekaligus basis pembacanya.
Hal itu disampaikan Citra dalam workshop Konten Lokal, Untung Global: Model Bisnis Media Siber Papua pada Festival Media Se-Tanah Papua di Nabire, Rabu, 14 Januari 2026. Ia menyebut perubahan perilaku konsumsi informasi menuntut media bekerja lebih presisi, bukan sekadar memproduksi berita dalam jumlah besar.
Menurut Citra, sebagian media masih terjebak pada logika produksi konten tanpa riset audiens. Akibatnya, berita tidak menjawab kebutuhan publik dan mudah dikalahkan oleh arus informasi instan di media sosial. “Kalau media tidak tahu siapa audiensnya dan apa kebutuhannya, relevansinya akan hilang,” ujarnya.
Ia menambahkan, persoalan utama industri media saat ini bukan hanya tekanan teknologi atau model bisnis, melainkan kegagalan membaca perubahan sosial, terutama di kalangan generasi muda yang lebih kritis dan selektif terhadap informasi.
Citra mengapresiasi antusiasme peserta Festival Media Se-Tanah Papua yang melibatkan jurnalis, pelajar, dan mahasiswa. Pertanyaan kritis peserta mengenai kecanduan media sosial dan masa depan perusahaan pers, menurut dia, mencerminkan kegelisahan nyata atas krisis kepercayaan terhadap media.
Ia menilai festival ini penting sebagai ruang konsolidasi media dan regenerasi jurnalis. “Industri media membutuhkan generasi baru yang memahami etika, kebutuhan publik, dan tanggung jawab menjaga akses informasi yang bermutu,” kata Citra.














