Peternak Ayam Broiler Timika Berhenti Produksi

Ketahanan Pangan Mimika Ikut Terancam dan Butuh Perhatian Pemerintah

banner 120x600

MPN – MIMIKA. Tak disangka perkembangan peternak Ayam Broiler (Ayam Pedaging) Lokal di Mimika yang diketahui sudah berjalan baik, akhirnya terpaksa tak lagi berproduksi alias berhenti total. Hal ini jelas diprediksi juga memberikan dampak pada upaya pengembangan ketahanan pangan di Mimika, yang selama ini terus dilakukan pemerintah sehingga sangat membutuhkan perhatian serius pemerintah.

Situasi stag ini diketahui diakibatkan, perkembangan usaha ayam broiler di Kabupaten Mimika yang sudah baik, sejak pertengahan tahun 2025 mengalami kemunduran signifikan yang dipicu oleh kesulitan memperoleh DOC (Day Old Chick) atau bibit ayam, menyusul gangguan produksi di sejumlah perusahaan penyedia bibit di Indonesia.

Dampaknya, ada sekitar 50 peternak broiler dari total lebih dari 60 peternak Orang Asli Papua (OAP) dan Nusantara yang tergabung dalam Asosiasi Peternakan Ayam Broiler Lokal OAP Nusantara Kabupaten Mimika terpaksa menghentikan kegiatan pemeliharaan. Terhentinya pasokan DOC membuat para peternak tidak dapat melanjutkan siklus produksi sebagaimana biasanya.

Menanggapi situasi ini disampaikan Ketua Asosiasi Peternak Ayam Broiler Lokal OAP Nusantara, George Ayom, Amd.Pett. bahwa asosiasi telah menyiapkan langkah strategis dengan menyurati Pemerintah Kabupaten Mimika, Pemerintah Provinsi, hingga Pemerintah Pusat guna meminta perhatian dan solusi konkret atas persoalan yang dihadapi para peternak.

Kondisi yang berdampak langsung pada penurunan produksi itu diketahui bahwa, pada tahun 2024 sempat terjadi peningkatan produksi hingga 30 persen. Namun sejak pertengahan tahun 2025 hingga saat ini kegiatan produksi praktis terhenti. Padahal, sebagian besar peternak menggantungkan sumber penghidupan utama mereka pada usaha ayam potong, dengan semangat dan komitmen yang tetap besar untuk terus berkembang.

Selain itu, kuota suplai ke PT Pangansari yang sebelumnya disepakati sebesar 50 ton per bulan, terpaksa diturunkan menjadi 30 ton akibat keterbatasan produksi. Namun dalam perkembangannya, bahkan kuota 30 ton tersebut pun tidak dapat terpenuhi karena terhentinya pasokan bibit.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan usaha peternakan broiler di Mimika, sekaligus menjadi tantangan bersama untuk segera menemukan solusi demi menjaga stabilitas ekonomi para peternak dan ketersediaan pangan di daerah.

Penulis: sam nussyEditor: sam wanda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *