Polisi Turun ke Ladang: Strategi Senyap Ketahanan Pangan di Balik Penanaman Jagung 1 Hektare di Makimi

banner 120x600

Nabire, MPN — Di tengah gencarnya narasi ketahanan pangan nasional, pemandangan tak biasa terlihat di Kampung Lagari Jaya, Distrik Makimi, Selasa (10/2/2026).

Aparat kepolisian berseragam lengkap berdiri di antara barisan bedengan jagung. Bukan untuk pengamanan unjuk rasa atau operasi penegakan hukum, melainkan mendampingi penanaman jagung kering seluas satu hektare.

Polsek Makimi turun langsung dalam kegiatan pendampingan Kelompok Mekar Tani, kelompok binaan Polda Papua Tengah. Di lahan seluas 10.000 meter persegi yang dikelola Ridwan dan Herianto, sebanyak 20 kilogram bibit jagung merek Bisi 18 ditanam sebagai bagian dari program dukungan terhadap ketahanan pangan nasional.

Kapolsek Makimi IPTU Samuel Picauly memimpin langsung kegiatan tersebut, didampingi Wakapolsek IPDA Philipus Wanma dan sejumlah personel. Kehadiran aparat di lahan pertanian menjadi simbol pergeseran peran yang kini semakin sering terlihat: polisi tak hanya menjaga keamanan, tetapi juga masuk ke sektor produksi pangan.

Program ini disebut sebagai bentuk dukungan konkret terhadap agenda nasional memperkuat ketersediaan pangan dari daerah. Namun di lapangan, langkah tersebut juga memperlihatkan bagaimana institusi negara bergerak langsung hingga ke tingkat kampung untuk memastikan program strategis berjalan.

Bibit jagung yang digunakan merupakan bantuan dari Polda Papua Tengah. Varietas Bisi 18 dikenal sebagai salah satu benih unggul dengan potensi hasil tinggi. Jika produktivitas optimal tercapai, satu hektare lahan dapat menghasilkan beberapa ton jagung kering dalam satu musim tanam—angka yang signifikan bagi ekonomi petani skala kecil.

Pendampingan berlangsung sekitar dua jam, sejak pukul 09.00 hingga 11.00 WIT, dalam situasi aman dan kondusif. Namun lebih dari sekadar kegiatan tanam-menanam, agenda ini menegaskan pola kolaborasi baru antara aparat keamanan dan kelompok tani.

Di Papua Tengah, wilayah yang selama ini lebih sering menjadi sorotan isu keamanan dan pembangunan, pendekatan berbasis pertanian menjadi strategi yang terus diperkuat. Ketahanan pangan bukan lagi sekadar slogan, tetapi diterjemahkan dalam aksi langsung di lapangan.

Pertanyaannya, sejauh mana model pendampingan aparat ini mampu mendorong kemandirian petani secara berkelanjutan? Untuk saat ini, yang terlihat jelas adalah satu hal: negara hadir, bahkan hingga ke barisan jagung yang baru ditanam.

Penulis: FNEditor: Jiro Nussy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *