Tiga Hari Tanpa Suara dari Kamar Kos Siriwo: Perantau 53 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa, Apa yang Terjadi?

banner 120x600

Nabire, MPN — Sunyi itu berlangsung selama tiga hari. Tak ada suara, tak ada aktivitas. Hanya aroma menyengat yang akhirnya memecah kecurigaan warga di Jalan Siriwo, Siriwo Atas, KPR Nabarua, Kelurahan Sirwini, Kabupaten Nabire, Jumat (13/2/2026) pagi.

Sekitar pukul 10.00 WIT, laporan warga masuk ke Polsek Nabire Kota. Bau tidak sedap tercium dari satu-satunya kamar kos yang terisi di bangunan lima petak tersebut. Didalamnya, seorang pria tinggal sendiri.

Kapolsek Nabire Kota, AKP Bobhy Pratama, S.Tr.K., mengatakan ia memimpin langsung pengecekan di lokasi setelah menerima laporan.

“Kami bersama personel piket dan Pawas langsung menuju TKP. Tim Inafis dan Kasat Reskrim juga turun untuk melakukan olah tempat kejadian perkara,” ujarnya, kepada awak media diruang kerjanya.

Di lorong sempit antara kamar dan dapur, petugas menemukan pria berinisial AB (53) dalam kondisi meninggal dunia. Di sekitar tubuhnya, terdapat KTP dan kartu ATM milik korban. Tidak ada tanda-tanda perusakan pada kamar kos tersebut.

AB diketahui bekerja sebagai tukang dan berdomisili di Jalan Gagak, Kelurahan Sirwini, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah. Ia merupakan perantau asal Nusa Tenggara Timur. Selama ini, ia tinggal seorang diri.

Kesaksian warga membuka potongan waktu sebelum kematian itu terungkap.
Seorang saksi, Marcella, mengaku terakhir bertemu korban pada Selasa lalu. Saat itu, korban tampak kurang sehat. Ia bahkan sempat mengajaknya berobat ke klinik, namun klinik dalam keadaan tutup.

Keesokan harinya, saksi kembali mendatangi kamar kos untuk mengajak korban berobat. Tak ada jawaban saat pintu diketuk. Karena menduga korban pergi ke rumah keluarganya di kawasan Kalibobo, kecurigaan tak muncul.

Hingga Jumat pagi, bau menyengat dari dalam kamar memaksa warga melapor ke polisi.

Polisi kini masih menunggu hasil visum dari pihak medis untuk memastikan penyebab kematian. Penanganan kasus diserahkan kepada Satreskrim Polres Nabire.

Peristiwa ini kembali menyingkap sisi sunyi kehidupan para perantau yang hidup sendiri jauh dari keluarga. Tanpa pengawasan, tanpa keluarga di sisi, sakit bisa berubah menjadi tragedi yang terlambat disadari.

“Kami mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal sendiri, agar tidak menutup diri ketika sakit. Segera beri tahu tetangga atau lapor ke kepolisian,” kata Kapolsek.

Tiga hari tanpa suara itu kini menyisakan satu pertanyaan: apakah ini sekadar kematian karena sakit, atau ada fakta lain yang masih menunggu terkuak? Polisi menyatakan, jawabannya menunggu hasil visum.

Penulis: FNEditor: Jiro Nussy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *