Nabire, MPN — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, menjadi perhatian setelah sejumlah guru dan siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan dengan gejala diare, muntah, dan pusing usai mengonsumsi makanan dari dapur layanan MBG di wilayah Kampung Lani.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Nabire, Marcel, mengatakan pelayanan MBG di wilayah tersebut mulai berjalan pada Rabu. Namun pada malam harinya, beberapa guru dan siswa dari tiga sekolah mulai merasakan gejala yang sama.

“Gejalanya diare, muntah, dan pusing. Setelah kami telusuri, kejadian ini terjadi di tiga sekolah,” ujar Marcel saat memberikan keterangan kepada awak media, dalam konfrensi pers, Jum’at malam (13/3/2026) di Klinik Rihensa Nabire.
Tiga sekolah yang terdampak yakni TK Gracia, SMP Negeri 7, dan SD Inpres Waharia. Dari ketiga sekolah tersebut tercatat enam orang mengalami gangguan kesehatan, terdiri dari guru dan siswa.
Sebanyak lima pasien saat ini menjalani perawatan di Klinik Rihensa, sementara satu pasien lainnya dirawat di fasilitas kesehatan berbeda. Pihak BGN memastikan seluruh pasien mendapatkan penanganan medis dan terus dipantau hingga pulih.
Marcel menjelaskan, laporan kasus ini sempat terlambat diterima pihaknya karena para guru yang mengalami gejala tidak langsung menyampaikan kondisi tersebut kepada pengelola program. Mereka memilih berkonsultasi secara diam-diam karena khawatir laporan tersebut menimbulkan kesalahpahaman terhadap program MBG.
“Para guru sebenarnya mengalami gejala yang sama, tetapi mereka tidak langsung melapor karena menjaga situasi agar tidak terjadi salah persepsi terhadap program ini,” katanya.
Dokter yang menangani pasien menyebutkan diagnosis sementara mengarah pada gangguan yang diduga dipicu oleh bakteri yang memengaruhi daya tahan tubuh. Namun kepastian penyebabnya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Saat ini tenaga laboratorium masih libur, sehingga pemeriksaan lanjutan baru akan dilakukan dalam waktu dekat. Sementara itu tenaga medis fokus memastikan pasien tidak mengalami dehidrasi akibat diare dan muntah yang dialami.
Dapur MBG di Kampung Lani sendiri diketahui melayani 17 sekolah dengan total sekitar 1.892 penerima manfaat yang terdiri dari siswa dan guru. Dari ribuan penerima manfaat tersebut, hanya enam orang yang dilaporkan mengalami gejala gangguan kesehatan.
BGN telah menginstruksikan seluruh kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk melakukan penelusuran dan memastikan kondisi siswa di sekolah-sekolah yang menerima layanan dari dapur tersebut.
Selain itu, evaluasi menyeluruh juga akan dilakukan terhadap proses pengolahan dan distribusi makanan, termasuk memperkuat pengawasan terhadap kebersihan dapur serta higienitas makanan.
“Kami akan melakukan evaluasi secara menyeluruh agar pengawasan, terutama terkait kebersihan makanan, bisa lebih diperkuat ke depan,” ujar Marcel.














