Ginjal Bisa Rusak Tanpa Gejala: Jangan Tunggu Sakit untuk Memeriksakan Diri

banner 120x600

Oleh: dr. Alva Samantha Djitmau, Sp.PD-KGH
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal dan Hipertensi, serta Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih (FK Uncen)

Ketika merasa sehat, kita sering beranggapan bahwa semua organ di dalam tubuh juga sedang dalam keadaan baik. Padahal, tidak semua penyakit langsung memberikan tanda atau keluhan. Salah satu contohnya adalah penyakit ginjal kronik.

Gangguan fungsi ginjal dapat berkembang perlahan selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan keluhan yang berarti. Seseorang masih dapat bekerja, makan, beraktivitas, bahkan berolahraga seperti biasa, sementara fungsi ginjalnya sebenarnya mulai menurun.

Karena itulah penyakit ginjal sering disebut sebagai penyakit yang dapat berkembang secara “diam-diam”.

Mengapa Ginjal Begitu Penting?

Ginjal bukan sekadar organ yang menghasilkan urine. Sepasang ginjal yang terletak di bagian belakang rongga perut memiliki berbagai fungsi penting bagi tubuh.

Ginjal membantu menyaring sisa metabolisme dan zat yang tidak diperlukan dari darah, mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit, membantu mengendalikan tekanan darah, serta berperan dalam pembentukan sel darah merah dan menjaga kesehatan tulang.

Ketika fungsi ginjal menurun, berbagai sistem tubuh akhirnya ikut terdampak.

Pada tahap awal, tubuh masih mampu melakukan kompensasi sehingga seseorang sering kali belum merasakan keluhan. Gejala biasanya menjadi lebih jelas ketika gangguan ginjal sudah semakin berat.

Siapa yang Berisiko Mengalami Penyakit Ginjal?

Tidak semua orang memiliki risiko yang sama. Beberapa kelompok perlu memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan ginjalnya.

Diabetes merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit ginjal kronik. Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat merusak pembuluh darah kecil di dalam ginjal.

Hipertensi juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan penyakit ginjal. Tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah ginjal. Sebaliknya, gangguan ginjal juga dapat menyebabkan tekanan darah semakin sulit dikendalikan.

Risiko penyakit ginjal juga meningkat pada orang dengan obesitas, penyakit jantung, riwayat penyakit ginjal dalam keluarga, usia lanjut, serta mereka yang pernah mengalami gangguan ginjal sebelumnya.

Penggunaan obat-obatan tertentu secara tidak tepat, termasuk penggunaan obat pereda nyeri secara berlebihan atau berkepanjangan, juga dapat memberikan dampak terhadap fungsi ginjal pada sebagian orang.

Karena itu, kebiasaan mengonsumsi obat tanpa mengetahui jenis, dosis, serta lamanya penggunaan sebaiknya dihindari.

Apakah Penyakit Ginjal Selalu Menimbulkan Gejala?

Tidak.

Inilah salah satu hal terpenting yang perlu diketahui masyarakat.

Pada tahap awal penyakit ginjal kronik, seseorang dapat sama sekali tidak merasakan keluhan.

Ketika fungsi ginjal semakin menurun, beberapa keluhan dapat mulai muncul, seperti mudah lelah, mual, nafsu makan menurun, bengkak pada kaki, perubahan jumlah atau karakter urine, sesak, sulit berkonsentrasi, atau rasa gatal pada tubuh.

Namun keluhan-keluhan tersebut tidak secara khusus hanya disebabkan oleh penyakit ginjal.

Karena itu, kita tidak seharusnya menunggu munculnya gejala untuk mengetahui apakah ginjal kita sehat.

Bagaimana Mengetahui Fungsi Ginjal?

Pemeriksaan fungsi ginjal sebenarnya relatif sederhana.

Dokter dapat melakukan pemeriksaan darah untuk melihat kadar kreatinin dan memperkirakan laju filtrasi ginjal atau estimated glomerular filtration rate (eGFR).

Pemeriksaan urine juga penting untuk melihat apakah terdapat protein atau albumin dalam urine. Adanya albumin di dalam urine dapat menjadi salah satu tanda awal kerusakan ginjal, terutama pada pasien diabetes atau hipertensi.

Tekanan darah, kadar gula darah, berat badan, serta faktor risiko lain juga perlu dinilai.

Pada kondisi tertentu dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan tambahan, misalnya ultrasonografi ginjal.

Pemeriksaan tidak harus dilakukan kepada semua orang dengan frekuensi yang sama. Namun seseorang yang memiliki diabetes, hipertensi, penyakit jantung, obesitas, atau faktor risiko penyakit ginjal lainnya sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mengenai kebutuhan pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala.

Apakah Banyak Minum Air Pasti Menyehatkan Ginjal?

Di masyarakat sering terdengar anjuran bahwa agar ginjal sehat kita harus minum air sebanyak-banyaknya.

Tubuh memang membutuhkan cairan yang cukup. Namun kebutuhan cairan setiap orang tidak selalu sama.

Kebutuhan tersebut dapat dipengaruhi oleh usia, aktivitas, suhu lingkungan, kondisi jantung, fungsi ginjal, serta penyakit lain yang dimiliki.

Pada sebagian pasien dengan penyakit jantung atau gangguan ginjal tertentu, jumlah cairan justru perlu diatur.

Karena itu, prinsip yang lebih tepat bukanlah “semakin banyak air semakin baik”, tetapi memenuhi kebutuhan cairan secara cukup dan sesuai kondisi tubuh.

Bagaimana Menjaga Ginjal Tetap Sehat?

Menjaga kesehatan ginjal sebenarnya tidak terpisah dari menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Mulailah dengan menjaga tekanan darah tetap terkendali dan memeriksa tekanan darah secara berkala.

Bagi penyandang diabetes, kendalikan kadar gula darah sesuai target yang diberikan dokter.

Batasi konsumsi garam karena asupan garam yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah.

Pertahankan berat badan yang sehat, lakukan aktivitas fisik secara teratur, hindari merokok, dan konsumsi makanan dengan pola gizi seimbang.

Obat-obatan, obat tradisional, jamu, atau suplemen juga sebaiknya tidak dikonsumsi sembarangan, terutama dalam jangka panjang. Label “alami” tidak selalu berarti aman untuk ginjal.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah melakukan pemeriksaan kesehatan sesuai faktor risiko masing-masing.

Cuci Darah Bukan Sesuatu yang Terjadi Tiba-Tiba

Tidak sedikit masyarakat baru menyadari adanya penyakit ginjal ketika dokter sudah mengatakan bahwa fungsi ginjal sangat menurun dan pasien membutuhkan terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis atau cuci darah.

Hal tersebut sering menimbulkan pertanyaan, “Mengapa tiba-tiba harus cuci darah, padahal sebelumnya saya merasa sehat?”

Pada banyak kasus, kerusakan ginjal sebenarnya telah berlangsung cukup lama, tetapi tidak memberikan gejala yang jelas.

Inilah alasan deteksi dini menjadi sangat penting.

Mengetahui gangguan ginjal sejak tahap awal memberikan kesempatan kepada pasien dan dokter untuk mengendalikan faktor penyebab, memperlambat penurunan fungsi ginjal, serta mengurangi risiko komplikasi.

Jangan Hanya Memeriksa Diri Ketika Sakit

Cara pandang terhadap kesehatan perlu perlahan berubah.

Pemeriksaan kesehatan tidak selalu dilakukan karena seseorang sedang sakit. Pemeriksaan juga diperlukan untuk menemukan faktor risiko atau penyakit pada tahap ketika seseorang masih merasa sehat.

Terutama bagi mereka yang memiliki diabetes, hipertensi, obesitas, penyakit jantung, atau riwayat penyakit ginjal dalam keluarga, jangan menunggu tubuh memberikan tanda bahaya.

Kenali tekanan darah Anda. Ketahui kadar gula darah Anda. Dan bila memiliki faktor risiko, diskusikan pemeriksaan fungsi ginjal dengan dokter.

Ginjal bekerja setiap hari tanpa kita sadari.

Menjaganya tidak harus dimulai ketika penyakit sudah berat.

Kenali risikonya, lakukan pemeriksaan sesuai kebutuhan, dan jaga kesehatan ginjal sejak sekarang. Karena pada penyakit ginjal, merasa sehat belum tentu berarti fungsi ginjal benar-benar sehat.

Tentang Penulis
Alva Samantha Djitmau, Sp.PD-KGH adalah dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi serta dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih (FK Uncen). Dalam praktik klinis dan kegiatan akademiknya, beliau memiliki perhatian pada edukasi masyarakat, pencegahan, deteksi dini, serta penatalaksanaan penyakit ginjal dan hipertensi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *