Jayapura — Banyak orang menganggap luka di mulut, bercak putih, atau sariawan yang tidak kunjung sembuh sebagai masalah biasa. Padahal, perubahan yang menetap di rongga mulut perlu mendapat perhatian karena dapat menjadi tanda awal kelainan yang lebih serius, termasuk kanker rongga mulut.
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, edukasi mengenai SAMURI atau Periksa Mulut Sendiri dapat menjadi langkah sederhana yang dilakukan di rumah.
SAMURI mengajak masyarakat untuk mengenali kondisi mulutnya sendiri menggunakan cermin dan pencahayaan yang cukup. Tujuannya bukan untuk mendiagnosis kanker sendiri, melainkan membantu seseorang menyadari bila ada perubahan yang tidak biasa dan segera mencari pertolongan tenaga kesehatan.
Kanker Rongga Mulut Bisa Datang Tanpa Nyeri
Salah satu alasan kanker rongga mulut sering terlambat diketahui adalah karena pada tahap awal keluhan bisa sangat ringan.
Seseorang mungkin masih bisa makan, berbicara, dan beraktivitas seperti biasa. Karena tidak terasa sakit, perubahan kecil di mulut sering diabaikan.
Padahal, semakin dini suatu kelainan ditemukan dan diperiksa, semakin besar peluang untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Kebiasaan Makan Pinang Perlu Mendapat Perhatian
Di Papua, kebiasaan mengunyah pinang merupakan bagian dari kehidupan sosial dan budaya sebagian masyarakat.
Namun dari sisi kesehatan, penggunaan pinang dalam jangka panjang diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya perubahan pada jaringan rongga mulut.
Risiko dapat menjadi lebih besar bila kebiasaan tersebut disertai faktor lain seperti merokok, penggunaan tembakau, atau konsumsi alkohol.
Karena itu, edukasi kesehatan sebaiknya tidak dilakukan dengan cara menyalahkan kebiasaan masyarakat, tetapi dengan memberikan informasi yang jelas mengenai risiko dan cara mengenali tanda awal penyakit.
Apa Saja yang Harus Diperhatikan?
Masyarakat perlu waspada bila menemukan perubahan di mulut yang menetap, antara lain:
- luka atau sariawan yang tidak sembuh;
- bercak putih atau merah;
- benjolan atau penebalan di mulut;
- perdarahan tanpa sebab yang jelas;
- rasa baal atau mati rasa;
- kesulitan mengunyah atau menelan;
- lidah sulit digerakkan;
- gigi menjadi goyang tanpa sebab yang jelas;
- atau benjolan di leher.
Tanda-tanda tersebut tidak selalu berarti kanker, tetapi tetap perlu diperiksa terutama jika tidak membaik.
Cara Melakukan SAMURI
Pemeriksaan dapat dilakukan di rumah dengan cara sederhana.
Pertama, siapkan cermin dan cari tempat dengan pencahayaan yang cukup. Pastikan tangan dalam keadaan bersih.
Kemudian periksa secara perlahan:
- bibir bagian luar dan dalam;
- bagian dalam pipi kanan dan kiri;
- gusi;
- langit-langit mulut;
- permukaan atas lidah;
- sisi kanan dan kiri lidah;
- bagian bawah lidah;
- dasar mulut.
Perhatikan apakah ada luka, bercak, perubahan warna, benjolan, atau bagian yang tampak berbeda dari biasanya.
Kuncinya adalah mengenali kondisi normal mulut sendiri sehingga perubahan menjadi lebih mudah diketahui.
Jangan Menunggu Sampai Sakit
Pesan penting dari SAMURI adalah jangan menunggu sampai rasa sakit muncul.
Jika terdapat perubahan yang menetap atau semakin membesar, sebaiknya segera memeriksakan diri ke Puskesmas, dokter, atau dokter gigi.
Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan sangat penting karena diagnosis kanker tidak dapat ditegakkan hanya dengan melihat melalui cermin.
Dalam beberapa kondisi, pasien mungkin memerlukan pemeriksaan lebih lanjut atau biopsi untuk memastikan penyebab kelainan.
Penting untuk Masyarakat Papua
Edukasi seperti SAMURI sangat relevan di Papua, terutama karena sebagian wilayah memiliki akses pelayanan kesehatan yang tidak selalu mudah.
Kemampuan masyarakat untuk mengenali tanda awal penyakit dapat membantu mempercepat keputusan mencari pertolongan.
SAMURI juga mudah diajarkan dalam berbagai kegiatan masyarakat, seperti pelayanan kesehatan di kampung, Puskesmas, Posbindu, sekolah, gereja, maupun kegiatan pengabdian masyarakat.
Dengan menggunakan poster, gambar, dan demonstrasi langsung, masyarakat dapat memahami langkah pemeriksaan dengan lebih mudah.
Edukasi Kesehatan Harus Dekat dengan Masyarakat
Pencegahan penyakit tidak hanya dilakukan di rumah sakit.
Informasi sederhana yang diberikan dengan bahasa yang mudah dipahami dapat membantu masyarakat mengambil keputusan kesehatan yang lebih baik.
Tenaga kesehatan juga diharapkan aktif menanyakan kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko, termasuk kebiasaan mengunyah pinang, kemudian memberikan edukasi tanpa menghakimi.
Tujuannya bukan untuk menyalahkan, tetapi membantu masyarakat memahami risiko dan menjaga kesehatannya.
Pesan Utama SAMURI
SAMURI dapat diingat dengan pesan sederhana:
S — Sadari faktor risiko
Kenali kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko gangguan rongga mulut.
A — Amati mulut secara berkala
Gunakan cermin dan pencahayaan yang cukup.
M — Mengenali perubahan
Jangan abaikan luka, bercak, atau benjolan yang menetap.
U — Upayakan mengurangi risiko
Kurangi kebiasaan yang dapat merusak kesehatan rongga mulut.
R — Rujuk bila ada kelainan
Segera periksa ke tenaga kesehatan.
I — Ingat pentingnya deteksi dini
Semakin cepat diperiksa, semakin cepat pula masalah dapat ditangani.
Pada akhirnya, pesan yang ingin disampaikan sangat sederhana:
Kenali mulutmu, jangan abaikan perubahan, dan periksa lebih awal sebelum terlambat.
Keterangan Foto
Kegiatan edukasi kanker rongga mulut melalui metode SAMURI (Periksa Mulut Sendiri) menggunakan media visual untuk membantu masyarakat mengenali tanda-tanda perubahan pada rongga mulut dan pentingnya deteksi dini.
Sumber foto: Dokumentasi kegiatan pengabdian masyarakat, 2026.













